Zakiyuddin Harahap Soroti Darurat Banjir: Dari Urgensi Normalisasi Sungai Hingga Kritik Pedas Perilaku Masyarakat

Share :

Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Print

Gerindrasumut.id | Medan Senin 22 Desember 2025, Wakil Walikota Medan sekaligus tokoh politisi Gerindra, Zakiyuddin Harahap, memberikan pernyataan komprehensif terkait penanganan pasca-banjir yang melanda wilayah Sumatera Utara dan sekitarnya.

Dalam sesi wawancara yang berlangsung di Sanur Coffee, Jalan Gurilla,pria yang akrab disapa Bang Zaki ini membedah akar permasalahan banjir dari sisi kebijakan hingga perilaku sosial masyarakat.

Prioritas Bantuan Aceh Tamiang: Masalah Kemanusiaan di Atas Batas Wilayah
​Membuka perbincangan, Zaki mengklarifikasi alasan penyaluran bantuan yang masif ke wilayah Aceh Tamiang.

Menurutnya, hal ini didasari pada kondisi kelumpuhan total yang dialami kabupaten tersebut dibandingkan daerah lain seperti Tapsel atau Sibolga.

​”Di Aceh Tamiang, pemerintahannya pun padam. Listrik satu kabupaten mati total. Jika tidak ada bantuan, mereka selesai. Jangankan tatanan kabupaten, masalah makan dan air bersih saja susah. Kenapa lewat Medan? Karena aksesnya lebih dekat dan gampang. Ini bukan soal provinsi ke provinsi, tapi soal kecepatan menyelamatkan nyawa,” tegas Zaki.

​Ia juga mengapresiasi bantuan dari berbagai pihak, termasuk kader Gerindra dan NGO UEA yang kini disalurkan oleh Muhammadiyah, sembari menekankan agar publik berhenti berpolemik mengenai teknis distribusi.

“Intinya bantuan sampai tepat sasaran. Jangan tidak bantu orang, tapi asyik mengejek saja. Fokus kita adalah membantu yang terdampak.” Ujar Zaki.

Kritik Tajam Okupansi DAS dan Mandeknya Normalisasi
​Zaki tidak menahan diri saat mengkritik kondisi sungai di Medan yang kian memprihatinkan. Ia menyebut bahwa bencana yang terjadi merupakan momentum introspeksi atas “ulah manusia” atau oknum-oknum tertentu.

​”Khusus Kota Medan, saya berharap BWS (Balai Wilayah Sungai) harus bergandengan tangan untuk menormalisasi sungai. Sejak zaman Bachtiar Jafar sampai saat ini, belum ada normalisasi sungai yang signifikan. Akibatnya, sungai semakin dangkal dan mengecil,” ujarnya.

​Ia menyoroti pelanggaran aturan Daerah Aliran Sungai (DAS) yang kian ekstrem. Zaki memaparkan bahwa sempadan sungai yang seharusnya kosong sejauh 15 meter, kini justru dipadati bangunan liar hingga ke atas aliran air.

“Ada sungai yang tinggal 2 meter karena dapur orang itu sudah di sana. Begitu mau digusur, pemerintah dibilang kejam. Padahal, mereka yang menutup akses itu, mereka yang sebenarnya kejam kepada 2 juta warga medan lainnya. Alat berat tidak bisa masuk untuk bekerja karena kiri-kanan sudah jadi rumah,” tegasnya.

Pola Banjir Berulang: Target Pembenahan 2026
​Menilik data historis, Zaki menyoroti kebetulan yang mengkhawatirkan, banjir besar terjadi pada tanggal 27 November selama dua tahun berturut-turut (2024 dan 2025). Ia menegaskan bahwa tahun 2026 tidak boleh ada lagi pembiaran.

​”Tahun ini kita harus fokus membenahi sungai. Kita harus berkoordinasi dengan BWS, Pemprovsu , dan Pemkab Deli Serdang karena aliran air ini saling melewati batas wilayah. Kita harus jaga-jaga, tahun 2026 bukan tidak mungkin terjadi lagi jika kita tidak duduk bersama menyelesaikan normalisasi ini sekarang,” ucap Zaki.

Imbauan Mentalitas Masyarakat: “Jangan Hanya Menuntut”
​Sebagai penutup, Wakil Walikota ini memberikan imbauan keras kepada masyarakat Kota Medan mengenai budaya kebersihan. Ia menyayangkan perilaku warga yang sengaja membuang sampah ke sungai dan parit pada waktu-waktu tersembunyi.

​”Dinas Kebersihan sudah pasti andil, tapi masyarakat jangan hanya menuntut. Kita lihat saja setiap habis sholat subuh atau tengah malam, banyak yang naik motor lalu membuang sampah ke sungai. Kita ingin sungai kita indah dan bisa jadi transportasi air seperti di luar negeri, tapi melihatnya sekarang saja sudah ‘geli’ karena kotor,” ungkapnya miris.

​Zaki mengajak seluruh warga untuk menghargai orang lain dengan tidak merusak fungsi sungai.

“Mari kita introspeksi. Bencana ini adalah teguran agar kita mulai menjaga alam, minimal dengan tidak membuang sampah ke sungai dan tidak mendirikan bangunan di bantaran,” pungkasnya

Baca Lainnya

Tulis Komentar

Berita Terbaru

IMG-20260823-WA0476
DPD Gerindra Sumut Respons Kasus Kekerasan Anak di Dairi, Alvino Purba Dirujuk ke Rumah Sakit di Medan
WhatsApp Image 2026-08-22 at 17.01
Dirjen Pemdes Dorong Deli Serdang Jadi Percontohan Pemerintahan Desa Berdampak
WhatsApp Image 2026-08-22 at 16.41
Bupati Tapsel Hadiri Pengajian Akbar BKMT di Aek Gunung, Serahkan Bantuan Korban Kebakaran
779944823_2604858116617918_7100403068124576731_n
Satgas Penanganan PETI Madina Susun Personel Penindakan
Screenshot 2026-08-22 163413
Wali Kota Padangsidimpuan Hadiri Dies Natalis ke-74 USU
Screenshot 2026-08-22 161651
Bupati Baharuddin Lantik Pengurus BPC HIPMI Batu Bara 2026–2029, Dorong Pengusaha Muda Jadi Motor Ekonomi Daerah
Screenshot 2026-08-22 160628
Wabup Syafrizal Buka Muscab V HIPMI Batu Bara, Dorong Pengusaha Muda Aktif Bangun Daerah
Screenshot 2026-08-22 160344
Penanaman Bawang Putih Serentak, Karo Dukung Swasembada Nasional
WhatsApp Image 2026-08-21 at 19.26
Serap Aspirasi Siswa, Bupati Siapkan Dukungan Pengembangan Ekskul SMPN 2 Lubuk Pakam
Screenshot 2026-08-20 155236
Wabup Madina Minta RSUD Tingkatkan Pelayanan dan Masyarakat Patuhi Aturan Jenguk Pasien
Polling