Gerindrasumut.id | Padangsidempuan Kamis 10 September 2026 – Padangsidimpuan bukan sekadar sebuah kota di kawasan Tapanuli Bagian Selatan. Di balik denyut kehidupannya hari ini, tersimpan jejak panjang sebagai salahsatu pusat pendidikan dan peradaban di kawasan selatan Sumatera Utara ini.
Identitas historis itu kini hendak diteguhkan kembali Pemerintah Kota Padangsidimpuan. Wali Kota Padangsidimpuan Letnan Dalimunte menegaskan, predikat sebagai kota pelajar bukan sekadar slogan masa lalu, melainkan warisan yang harus dijaga dan dikembangkan untuk menjawab tantangan masa depan.
Hal itu disampaikan Letnan dalam podcast “Bincang Tipis-Tipis” bersama Erman Tale Daulay di kanal Tale Trias Info. Perbincangan yang mengiris sejarah pendidikan Padangsidimpuan itu kemudian bermuara pada satu pertanyaan: bagaimana menjadikan kota ini tetap menjadi magnet pendidikan bagi generasi muda di Tapanuli Bagian Selatan?
Jejak itu bukan cerita baru. Pada 1885, Padangsidimpuan telah dikenal memiliki sekolah guru yang penting di Nusantara, sejajar dengan Probolinggo. Dari dunia pendidikan tersebut lahir tenaga pengajar dan kaum intelektual yang kemudian menyebar ke berbagai wilayah, mulai dari Aceh, Riau, Sumatera Barat hingga kawasan Malaya.
Pengaruh Padangsidimpuan ketika itu tidak berhenti di batas kota. Ia mengirimkan ilmu ke berbagai penjuru.
Dari rahim intelektual kota ini pula lahir nama-nama besar seperti Dja Endar Muda Harahap, tokoh pers yang dikenal sebagai Raja Koran Sumatera dan pelopor pers pribumi. Ada pula Rajiun Harahap, tokoh pergerakan yang dikenal memiliki keterkaitan dengan Perhimpunan Indonesia di Belanda.

“Nama-nama besar orang Sidimpuan itu membuat saya bangga, terharu, sekaligus terpanggil,” ujar Letnan.
Menurut dia, sejarah tersebut tidak boleh berhenti sebagai nostalgia. Pemerintah Kota Padangsidimpuan ingin memastikan pendidikan tetap menjadi salahsatu prioritas pembangunan, mulai dari penguatan sekolah, peningkatan kualitas pendidikan hingga membangun sinergi dengan perguruan tinggi.
Padangsidimpuan, kata Letnan, harus tetap menjadi tempat orang datang untuk belajar. Sebab sejak dahulu kota ini menjadi tujuan pendidikan bagi masyarakat dari berbagai daerah seperti Gunungtua, Sibuhuan, Panyabungan dan Sipirok.
Karena itu, menjaga predikat kota pelajar tidak cukup hanya dengan membangun sekolah. Yang harus dibangun adalah ekosistem kota yang membuat pelajar merasa nyaman untuk datang, tinggal dan tumbuh.
Infrastruktur pendidikan, kualitas guru dan kepala sekolah, keamanan lingkungan, tempat kos, UMKM, kuliner hingga ruang interaksi anak muda menjadi bagian dari ekosistem tersebut.
Pemerintah kota juga berupaya memperluas akses pendidikan bagi masyarakat kurang mampu. Dukungan diberikan secara lebih terarah melalui pendekatan by name by address, termasuk stimulus biaya kuliah bagi anak-anak Padangsidimpuan yang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Di tengah keterbatasan, Letnan memilih pendekatan kolaborasi. Pemerintah kota terus membangun komunikasi dengan pemerintah provinsi, pemerintah pusat, sekolah dan perguruan tinggi untuk memastikan persoalan pendidikan dapat ditangani bersama.
Bagi Letnan, pendidikan bukan sekadar urusan gedung dan ruang kelas. Pendidikan adalah investasi untuk menentukan wajah Padangsidimpuan pada masa depan.
Di titik inilah nama Dja Endar Muda kembali menemukan relevansinya.
Dja Endar Muda bukan hanya bagian dari masa lalu Padangsidimpuan. Ia menjadi bukti bahwa sebuah kota di selatan Sumatera Utara mampu melahirkan manusia yang gagasan dan pengaruhnya melampaui batas wilayah kelahirannya.
Karena itu, tantangan Padangsidimpuan hari ini bukan sekadar mempertahankan predikat kota pelajar. Tantangannya adalah melahirkan generasi yang mampu mengukir sejarah baru.
“Dengan nama-nama besar tadi, kita merasa bangga dan terpanggil agar bisa mempertahankan mutu, kualitas dan kuantitas pendidikan kita,” ujar Letnan.
Ia juga menyadari pekerjaan itu tidak mungkin dilakukan pemerintah sendirian. Dukungan tokoh pendidikan, alumni, masyarakat, dunia usaha dan organisasi seperti PAPSI (Parsadaan Alumni Pelajar Padangsidimpuan dan Sekitarnya) diperlukan untuk memperkuat ekosistem pendidikan Padangsidimpuan.
Dulu Padangsidimpuan melahirkan Dja Endar Muda. Kini, tantangannya adalah melahirkan “Dja Endar Muda” baru—generasi yang memiliki keberanian berpikir, kemampuan berkarya dan pengaruh yang mampu membawa nama Padangsidimpuan jauh melampaui batas geografisnya.Red
