Gerindrasumut.id |Medan Jumat 9 Oktober 2026– Pengurus Badan Pengurus Kesehatan Indonesia Raya (KESIRA) Sumatera Utara, drg. Tina Arriani, M.Kes., Ph.D., DBA., CPPS, menilai program Makan Bergizi Gratis (MBG), Cek Kesehatan Gratis (CKG), dan Sekolah Rakyat perlu diintegrasikan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia sekaligus memutus mata rantai kemiskinan.
Menurutnya, ketiga program tersebut tidak boleh berjalan sendiri-sendiri, tetapi harus didukung manajemen kesehatan terpadu berbasis wilayah, data yang akurat, serta kolaborasi lintas sektor.
“Program ini bukan sekadar memenuhi amanat konstitusi, tetapi juga merupakan investasi jangka panjang untuk melahirkan Generasi Emas Indonesia 2045 yang sehat, cerdas, berkarakter, dan produktif,” menjadi inti pandangannya.
Ia menilai intervensi kesehatan perlu dilakukan sejak masa kehamilan, balita, anak-anak, remaja hingga lanjut usia. Dengan demikian, pemenuhan gizi, pemeriksaan kesehatan, dan pendidikan dapat berjalan beriringan dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Belawan Berpotensi Jadi Percontohan
Tina menilai Belawan memiliki potensi menjadi model pembangunan kesehatan terpadu, khususnya bagi kawasan pesisir yang menghadapi tantangan kesehatan, sosial, dan pendidikan.
Puskesmas di wilayah tersebut diharapkan tidak hanya menunggu masyarakat datang berobat, tetapi juga aktif melakukan deteksi dini stunting, skrining tuberkulosis (TBC), pemantauan pertumbuhan anak melalui Posyandu, serta tindak lanjut bagi warga yang membutuhkan pemeriksaan dan pengobatan.
Integrasi data menjadi kunci agar setiap program tepat sasaran. MBG berperan memenuhi kebutuhan gizi, CKG mendeteksi masalah kesehatan, sedangkan Puskesmas dan Posyandu memastikan intervensi serta pemantauan berjalan berkelanjutan.
Sekolah Rakyat Harus Menjadi Sekolah Sehat
Selain gizi dan layanan kesehatan, Sekolah Rakyat juga dinilai perlu terhubung dengan pelayanan kesehatan. Puskesmas dapat dilibatkan dalam pemeriksaan kesehatan berkala, pemantauan gizi, kesehatan gigi dan mata, kesehatan jiwa, skrining TBC, serta edukasi perilaku hidup bersih dan sehat.
Dengan pendekatan tersebut, anak-anak dari keluarga miskin dan rentan tidak hanya memperoleh akses pendidikan, tetapi juga dukungan kesehatan, gizi, perlindungan, dan pembentukan karakter.
Tina menegaskan, keberhasilan program tidak cukup diukur dari jumlah makanan yang dibagikan atau masyarakat yang diperiksa. Indikator hasil seperti penurunan stunting, penemuan dan pengobatan TBC lebih dini, peningkatan kesehatan anak, keberlanjutan pendidikan, serta kemandirian keluarga perlu menjadi tolok ukur.
Ia berharap integrasi MBG, CKG, Posyandu, penanganan TBC, dan Sekolah Rakyat dapat menjadi bagian dari pembangunan Kota Medan menuju visi Medan untuk Semua yang diusung Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas dan Wakil Wali Kota Medan H. Zakiyuddin Harahap.
“Belawan dapat menjadi titik awal pembuktian bahwa pembangunan kesehatan yang terintegrasi mampu meningkatkan kualitas manusia, khususnya di kawasan pesisir, menuju Generasi Emas Indonesia 2045,” demikian gagasan yang disampaikan Tina.Red
