Gus Irawan Ungkap Jejak Intelektual Sanusi Pane, dari Bahasa Persatuan hingga Perjuangan Menjadi Pahlawan Nasional

Share :

Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Print

Gerindrasumut.id | Medan Jumat 9 Oktober 2026 – Bupati Tapanuli Selatan (Tapsel) H. Gus Irawan Pasaribu menegaskan bahwa Sanusi Pane merupakan sosok intelektual penting dalam perjalanan bahasa Indonesia sekaligus salah satu putra terbaik Sumatera yang pemikirannya melampaui batas zaman, daerah, suku, dan generasi.

Hal itu disampaikan Bupati Tapsel saat menjadi narasumber dalam siaran kebahasaan TVRI Sumatera Utara bertajuk “Sanusi Pane: Penggerak Bahasa Indonesia”, yang diselenggarakan Balai Bahasa Provinsi Sumatera Utara bersama TVRI Sumut di Studio TVRI Sumatera Utara, Jalan Putri Hijau No. 7, Kota Medan, Kamis (08/10/2026).

Dalam dialog yang dipandu pewara Gina Febriana tersebut, Gus Irawan menyoroti kiprah Sanusi Pane dari perspektif sejarah, kebudayaan, pendidikan, literasi, hingga nilai-nilai perjuangan dan pengabdian yang menurutnya masih sangat relevan bagi Indonesia saat ini.

Bupati menyebut, Sanusi Pane tumbuh dari keluarga yang memiliki tradisi intelektual dan literasi yang kuat. Ayahnya, Sutan Pangurabaan Pane, dikenal sebagai tokoh pergerakan, sastrawan daerah sekaligus redaktur surat kabar Poestaha. Sementara Sanusi Pane dan adiknya, Armijn Pane, kemudian tampil sebagai tokoh penting dalam perkembangan sastra dan kebudayaan Indonesia.

“Keluarga Pane ini bisa dibilang adalah dinasti literasi awal di tanah Batak dan Indonesia. Sanusi dan Armijn tidak tumbuh di ruang hampa. Mereka tumbuh dalam lingkungan yang menghargai teks, diskusi dan kebudayaan. Bagi kami di Tapsel, ini adalah legacy atau warisan yang harus terus dihidupkan,” ujar Gus Irawan.

Menurutnya, warisan intelektual keluarga Pane harus diterjemahkan menjadi gerakan nyata di tengah masyarakat, khususnya generasi muda.

Karena itu, Pemkab Tapsel terus mendorong penguatan taman bacaan, festival literasi daerah serta pengembangan muatan lokal di sekolah agar generasi muda mengetahui bahwa Tapanuli Selatan dan kawasan Tapanuli memiliki sejarah panjang dalam melahirkan para pemikir dan pejuang kebudayaan.

Dalam dialog tersebut terungkap bahwa peran Sanusi Pane dalam sejarah bahasa Indonesia jauh lebih besar daripada sekadar sebagai sastrawan.

Pada Kongres Pemuda I tahun 1926, Sanusi Pane disebut turut memberikan kontribusi penting dalam perdebatan mengenai bahasa persatuan. Persetujuannya terhadap gagasan bahasa Indonesia menjadi salah satu bagian dari proses intelektual yang kemudian mengantarkan bangsa Indonesia menuju Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928.

Sanusi Pane juga disebut mengusulkan istilah “Kebulatan Tekad Pemuda” untuk menggambarkan cita-cita persatuan dalam satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa.

Bagi Gus Irawan, pilihan bahasa sebagai fondasi persatuan menunjukkan bahwa nasionalisme Indonesia sejak awal dibangun dengan semangat inklusif.

“Beliau tidak terjebak pada ego kesukuan, meskipun sangat mencintai budayanya. Beliau melihat Indonesia dalam perspektif yang jauh lebih luas. Ini menjadi pelajaran penting bagi kita bahwa kecintaan terhadap daerah justru harus menjadi kekuatan untuk membangun Indonesia,” katanya.

Kontribusi Sanusi Pane tidak berhenti pada Kongres Pemuda. Ia aktif dalam dunia pers dan sastra, termasuk ketika menjadi redaktur majalah Timboel dan mendorong penggunaan bahasa Indonesia dalam ruang publik.

Ia juga terlibat dalam Kongres Bahasa Indonesia I di Solo pada 1938. Dalam kongres tersebut, Sanusi Pane menyampaikan prasaran mengenai sejarah bahasa Indonesia serta gagasan mengenai perlunya lembaga yang secara khusus mengembangkan bahasa Indonesia.

Gagasan tersebut dinilai menjadi salah satu cikal bakal pemikiran kelembagaan kebahasaan nasional yang berkembang hingga sekarang.

Penerjemah Ahli Madya Balai Bahasa Provinsi Sumatera Utara, Yolferi, yang turut menjadi narasumber, menilai Sanusi Pane merupakan sosok penting dalam sejarah bahasa persatuan Indonesia.

Menurutnya, nama Sanusi Pane perlu terus diangkat karena kontribusinya bukan hanya sebagai sastrawan, melainkan sebagai konseptor kebudayaan dan bahasa.

“Mohammad Yamin memang dikenal dalam perumusan Sumpah Pemuda, tetapi Sanusi Pane memberikan landasan pemikiran tentang bagaimana bahasa Indonesia harus tumbuh menjadi bahasa kebudayaan yang dinamis dan mampu memperkaya dirinya dari berbagai sumber,” jelasnya.

Yolferi juga menjelaskan posisi Sanusi Pane dalam Polemik Kebudayaan pada dekade 1930-an, ketika ia berhadapan dengan pemikiran Sutan Takdir Alisjahbana.

Jika Sutan Takdir lebih menekankan pentingnya orientasi modernitas Barat, Sanusi Pane mempertahankan pentingnya akar kebudayaan Timur sebagai bagian dari pembangunan identitas Indonesia.

Pandangan tersebut menunjukkan bahwa bagi Sanusi Pane, modernisasi tidak harus berarti meninggalkan akar budaya.

Pemikiran itu kemudian turut memberi warna terhadap perkembangan bahasa dan sastra Indonesia yang modern, tetapi tetap memiliki identitas kebudayaan sendiri.

Gus Irawan juga mengungkapkan bahwa perjuangan mendorong Sanusi Pane menjadi Pahlawan Nasional bukanlah gagasan yang muncul secara tiba-tiba. Menurutnya, aspirasi tersebut terus bergulir dari masyarakat, khususnya para pemuda Tapanuli Selatan.

Ia menjelaskan, salah satu momentum penting terjadi pada 8 Oktober 2025, ketika organisasi-organisasi kepemudaan di kawasan Kepon Selatan mendeklarasikan dukungan sekaligus menyampaikan permohonan agar Sanusi Pane diusulkan sebagai Pahlawan Nasional.

Aspirasi itu kemudian terus berkembang dan mendapat bentuk kelembagaan melalui berbagai kegiatan di Tapanuli Selatan.

“Ini kan terus bergulir. Sudah diawali deklarasi para pemuda KNPI Tapanuli Selatan, Pada saat Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2025, mereka mendeklarasikan sekaligus memohon pengusulan Sanusi Pane sebagai Pahlawan Nasional,” ungkap Gus Irawan.

Aspirasi tersebut kembali mengemuka pada Juli 2026 dalam kegiatan Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU). Saat mengisi panggung utama PRSU, Gus Irawan bersama Tokoh masyarakat kembali mendeklarasikan dukungan terhadap pengusulan Sanusi Pane sebagai Pahlawan Nasional.
Ia mengatakan deklarasi itu merupakan respons pemerintah daerah terhadap aspirasi yang berkembang kuat di tengah pemuda dan masyarakat Tapanuli Selatan.

Bagi Gus Irawan, perjuangan tersebut didasarkan pada jasa-jasa Sanusi Pane yang dinilai luar biasa, terutama dalam memperkuat persatuan melalui bahasa Indonesia.

“Untuk Sanusi Pane, dengan jasa-jasa yang luar biasa oleh beliau sebagai pemersatu melalui Bahasa Persatuan Indonesia, itu juga menjadi dasar untuk mengajukan ke pahlawanan nasional,” katanya.

Gus Irawan mengakui bahwa pengusulan seorang tokoh menjadi Pahlawan Nasional membutuhkan dukungan dokumentasi dan kajian sejarah yang kuat.

Karena itu, Pemkab Tapsel juga berkoordinasi dengan Balai Bahasa Provinsi Sumatera Utara untuk membantu mengumpulkan berbagai dokumen yang dapat memperkuat usulan tersebut.

“Karena Balai Bahasa punya keterbatasan tentu saja untuk menggali, katakanlah dokumentasi dan seterusnya. Kami kemudian meminta bantuan juga ke Balai Bahasa untuk mengumpulkan dokumen-dokumen untuk memperkuat usulan itu,” tuturnya.

Menurutnya, proses tersebut saat ini terus berjalan untuk melengkapi sekaligus memperkuat portofolio pengusulan Sanusi Pane.

“Saya kira ini sedang bergerak terus untuk melengkapi dan memperkuat usulan itu. Kemudian nanti pada saatnya, kalau sebetulnya secara formal, kami berharap dan meyakini beliau sangat pantas untuk dianugerahi gelar Pahlawan Nasional,” tegas Gus Irawan.

Dukungan terhadap pengusulan tersebut juga datang dari Balai Bahasa Provinsi Sumatera Utara melalui kajian akademis dan penelusuran berbagai dokumen sejarah.

Yolferi menyebut salah satu tantangan terbesar adalah menemukan dan mengamankan dokumen primer yang tersebar dalam surat kabar dan majalah lama, termasuk publikasi yang sebagian tersimpan di luar negeri.

“Banyak karya Sanusi Pane yang tersebar di surat kabar dan majalah pra-kemerdekaan. Sebagian fisiknya sudah rapuh sehingga harus ditranskripsi dan dikaji kembali. Namun, melalui kerja sama akademisi, Balai Bahasa dan Pemkab Tapsel, portofolio perjuangan kebahasaan beliau terus kita formulasi secara ilmiah,” katanya.

Gus Irawan menilai salah satu nilai terbesar yang diwariskan Sanusi Pane adalah integritas dalam mengabdi.

Sanusi Pane tercatat pernah menolak penghargaan Satyalancana Kebudayaan dari Presiden Soekarno karena merasa telah menerima banyak hal dari negara, sementara apa yang dilakukannya untuk bangsa merupakan kewajiban sebagai anak Indonesia.

Bagi Gus Irawan, sikap tersebut memperlihatkan bahwa perjuangan Sanusi Pane tidak didorong oleh kepentingan memperoleh penghargaan.

“Beliau berjuang itu tanpa pamrih. Bahwa penghargaan dilakukan oleh Presiden pada masa hidupnya beliau, beliau menolak dengan alasan bahwa dia sudah menerima segalanya dari negara Indonesia, tetapi beliau belum merasa memberikan sesuatu buat negara,” ungkapnya.

Ia menilai sikap Sanusi Pane tersebut merupakan pelajaran penting bagi generasi saat ini.

“Semua perjuangan dan pengabdian beliau itu bukan untuk ganjaran, tetapi adalah sebuah kewajiban dia sebagai anak bangsa,” katanya.

Menurut Gus Irawan, nilai tersebut bahkan masih sangat relevan dengan tata kelola pemerintahan modern. Ia mencontohkan bagaimana Sanusi Pane tidak menjadikan urusan pangkat maupun penghargaan sebagai tujuan dalam bekerja.

“Beliau orang yang sangat luar biasa. Beliau pegawai dari awal sampai akhir golongannya tidak naik-naik karena beliau tidak mau mengurus. Saya menangkap nilai yang beliau ajarkan, hari ini masih relevan. Kalau kinerja seseorang baik, mestinya penghargaan dan kenaikan itu berjalan dengan sendirinya,” ujarnya.

Ketika ditanya mengapa pemikiran Sanusi Pane masih relevan bagi generasi muda saat ini, Gus Irawan mengatakan ada nilai-nilai universal yang tidak dibatasi zaman.

Sanusi Pane, katanya, bukan hanya sastrawan. Ia juga seorang budayawan, dramawan, penulis dan pendidik yang memiliki nilai-nilai kejuangan.

“Beliau memilih perjuangan tidak dengan bedil, tetapi dengan satu kata kunci sebetulnya adalah persatuan, dengan bahasa,” kata Gus Irawan.

Menurutnya, nilai persatuan yang diperjuangkan Sanusi Pane justru semakin penting ketika Indonesia menghadapi kompetisi global yang semakin terbuka.

“Ada hal yang memang bersifat universal dan tanpa batas waktu. Nilai-nilai yang beliau ajarkan, beliau orang yang sangat memiliki talenta, beliau sastrawan, budayawan, kemudian dramawan, penulis, pendidik dengan berbagai nilai kejuangan,” ujarnya.

Gus Irawan menilai persatuan bukan sekadar slogan, tetapi kebutuhan strategis bangsa untuk menghadapi perubahan dunia.

“Era hari ini kompetisi semakin kompetitif secara global. Kita butuh kebersatuan kita semua untuk bisa establish, survive di kompetisi global yang semakin kompetitif,” katanya.

Karena itu, ia menilai ajaran Sanusi Pane bukan hanya masih relevan, tetapi dibutuhkan untuk membawa bangsa Indonesia menghadapi masa depan.

“Nilai-nilai ajaran beliau menjadi relevan dan sangat dibutuhkan, bahkan tidak hanya relevan, tetapi kita butuhkan hari ini untuk membawa bangsa ini lebih maju ke depan,” tegasnya.

Di tengah dominasi bahasa asing, bahasa slang dan budaya media sosial, Gus Irawan menilai semangat Sanusi Pane justru semakin relevan.

Menurutnya, jika Sanusi Pane hidup di era digital, ia kemungkinan besar tidak akan memusuhi teknologi, tetapi justru menggunakannya sebagai alat perjuangan kebudayaan.

“Dulu beliau menggunakan majalah dan koran sebagai media pergerakan. Anak muda sekarang punya TikTok, Instagram dan YouTube. Jadikan itu alat untuk mengenalkan keindahan bahasa kita, sastra kita dan budaya daerah kita ke mata dunia,” katanya.

Karena itu, Pemkab Tapsel melalui sektor pendidikan juga mendorong agar karya-karya Sanusi Pane tidak berhenti sebagai bahan kajian akademis.

Karya seperti Manusia Baru dan puisi-puisinya dapat diperkenalkan melalui musikalisasi puisi, pementasan teater dan kegiatan Bulan Bahasa maupun peringatan Sumpah Pemuda.

Pemkab Tapsel juga mendorong penyusunan buku saku digital atau e-book mengenai tokoh-tokoh literasi Tapanuli yang dapat diakses secara gratis oleh pelajar.

“Kami tidak ingin ini menjadi gerakan elitis. Kami ingin Sanusi Pane hidup di hati dan gawai anak-anak kita,” kata Gus Irawan.

Dalam dialog tersebut juga dibahas jejak historis keluarga Pane di kawasan Tapanuli Selatan.

Secara administratif saat ini, tempat kelahiran Sanusi Pane di Muara Sipongi berada di Kabupaten Mandailing Natal, yang merupakan wilayah pemekaran dari Tapanuli Selatan terdahulu. Namun, akar kultural Angkola-Mandailing serta jejak perjuangan intelektual keluarga Pane memiliki keterkaitan kuat dengan sejarah kawasan Tapanuli.

Gus Irawan menyebut keberadaan Perpustakaan Lafran Pane di Desa Pangurabaan, Kecamatan Sipirok, menjadi salah satu bagian penting dalam upaya merawat tradisi literasi dan sejarah intelektual daerah.

Ia mendorong para sejarawan dan akademisi lokal untuk terus melakukan penelitian terhadap hubungan genealogis, budaya dan sejarah keluarga Pane agar generasi muda memahami akar sejarahnya secara lebih utuh.

Kepala Stasiun TVRI Medan Budy Kurniawan turut hadir dalam kegiatan tersebut. Hadir pula Kepala Dinas Perpustakaan Tapsel Hamonangan Harahap dan jajaran Balai Bahasa Provinsi Sumatera Utara.

Bagi Tapsel, penggalian kembali pemikiran Sanusi Pane bukan sekadar nostalgia sejarah. Lebih dari itu, ia merupakan upaya menghidupkan kembali gagasan tentang literasi, kebudayaan, persatuan dan pengabdian tanpa pamrih.

Sanusi Pane telah melewati sejumlah ruang penting dalam perjalanan bangsa: sastra, pers, pendidikan dan kebudayaan. Jejaknya memperlihatkan satu benang merah, yakni membangun Indonesia melalui bahasa dan kebudayaan.

Kini, hampir satu abad setelah gagasan bahasa persatuan itu diperjuangkan, tantangannya bergeser dari kolonialisme menuju derasnya arus informasi digital.

Karena itu, pesan terbesar dari Sanusi Pane tetap relevan: bahasa Indonesia bukan sekadar alat berkomunikasi, tetapi salah satu fondasi persatuan bangsa.

Semangat itulah yang kini ingin kembali dihidupkan Tapanuli Selatan—agar nama Sanusi Pane tidak hanya tercatat dalam buku sejarah, tetapi hadir dalam ruang kelas, perpustakaan, panggung seni, media massa hingga layar gawai generasi muda Indonesia.

Baca Lainnya

Tulis Komentar

Berita Terbaru

IMG-20261008-WA0479
Gus Irawan Ungkap Jejak Intelektual Sanusi Pane, dari Bahasa Persatuan hingga Perjuangan Menjadi Pahlawan Nasional
Screenshot 2026-10-09 114903
KESIRA Sumut: Integrasi MBG, CKG dan Sekolah Rakyat Bisa Jadikan Belawan Model Generasi Emas 2045
Screenshot 2026-10-09 112712
Gebyar Kreativitas Pendidikan Labuhanbatu Ditutup, Maya Dorong Lahirnya Generasi Unggul Menuju Indonesia Emas 2045
Screenshot 2026-10-09 110123
Wali Kota Dr. Letnan Dalimunthe Dorong Zakat ASN Jadi Kekuatan Sosial untuk Bantu Masyarakat
Screenshot 2026-10-08 095623
Letnan Dalimunthe Fokus Bangun SDM, Pertahankan Padangsidimpuan sebagai Kota Pelajar
Screenshot 2026-10-08 095040
Dukung Program Presiden Prabowo, Pemkab Madina Siapkan Lahan 170 Ha untuk Budi Daya Bawang Putih
Screenshot 2026-10-08 094256
Jamin Ketenangan Guru Mengajar, Pemkab Madina Teken MoU dengan Kejari
Screenshot 2026-10-08 093624
BERLAYAR Hadir di Air Putih, Bupati Batu Bara Turun Langsung Layani dan Serap Aspirasi Warga
Screenshot 2026-10-08 092931
Bupati Baharuddin Siagian Dorong RTRW Sumut Selaras dengan Kebutuhan Pembangunan Batu Bara
WhatsApp Image 2026-10-07 at 20.42
Asri Ludin Tambunan Dorong Perlindungan Pekerja Migran hingga Tingkat Desa
Polling