Gerindrasumut.id | Tapanuliselatan Rabu 19 Agustus 2026 – Bupati Tapanuli Selatan (Tapsel) H. Gus Irawan Pasaribu mendorong pengembangan usaha peternakan ayam petelur melalui gagasan Gerakan Budidaya Ayam Petelur Seribu Kandang sebagai upaya memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan produktivitas peternak lokal sekaligus memenuhi kebutuhan telur masyarakat di Kabupaten Tapanuli Selatan.
Hal itu disampaikan Bupati saat menerima audiensi Komunitas Peternak Ayam Petelur Sipirok–Angkola Timur di Ruang Rapat Bupati, Kantor Bupati Tapanuli Selatan, Sipirok, Rabu (19/08/2026).
Audiensi tersebut dihadiri Ketua Komunitas Peternak Ayam Petelur Sipirok–Angkola Timur Muhammad Karin Siagian, Sekretaris Andi Stefanus Harahap, Bendahara Roni Tua Pasaribu beserta jajaran pengurus dan anggota. Turut hadir Kepala Dinas Pertanian Tapsel M. Taufik Batubara, Kepala Dinas Perdagangan, para kepala bidang serta ASN dari Dinas Pertanian dan Dinas Perdagangan.
Muhammad Karin Siagian menjelaskan, komunitas tersebut telah berdiri berdasarkan Akta Pendirian Nomor 09 tanggal 10 Juni 2026. Saat ini komunitas beranggotakan 25 peternak lokal dengan populasi ayam sekitar 25.000 ekor, sementara dalam pemaparan lainnya disebutkan total populasi yang tercatat di komunitas mencapai sekitar 32.000 ekor dengan produksi sekitar 4.000 butir telur per hari.
Menurutnya, para peternak lokal masih menghadapi sejumlah kendala, antara lain keterbatasan akses pasar, masuknya pasokan telur dari luar daerah, kebutuhan penambahan populasi ayam, ketersediaan pakan, pengelolaan limbah kandang serta keterbatasan pendampingan teknis dan kesehatan hewan.
“Kami berharap dukungan pemerintah daerah, terutama untuk pengembangan populasi, pemasaran telur lokal, pendampingan peternakan serta akses pembiayaan. Kami siap mendukung program pemerintah untuk meningkatkan produksi telur di Tapanuli Selatan,” ujar perwakilan komunitas.
Menanggapi hal tersebut, Bupati Gus Irawan menyambut positif terbentuknya komunitas peternak ayam petelur dan menilai sektor tersebut memiliki potensi besar untuk dikembangkan.
Ia menyebut kebutuhan telur di Tapsel cukup besar, terlebih dengan berlangsungnya berbagai program pemerintah, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG). Karena itu, pengembangan produksi telur lokal dinilai penting agar kebutuhan masyarakat tidak terus bergantung pada pasokan dari luar daerah.
“Ini bagus. Kita buat Gerakan Budidaya Ayam Petelur Seribu Kandang. Ini bisa menjadi kolaborasi Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan dengan komunitas peternak ayam petelur Tapsel,” kata Bupati.
Bupati menegaskan, program tersebut tidak boleh berhenti sebatas slogan. Menurutnya, harus disusun langkah konkret mulai dari peningkatan populasi, produktivitas, efisiensi biaya produksi, pendampingan kesehatan hewan hingga kepastian pasar.
Ia juga meminta Dinas Pertanian menyusun roadmap khusus pengembangan peternakan ayam petelur, dengan sasaran utama meningkatkan produktivitas dan efisiensi produksi para peternak.
“Dinas Pertanian manfaatkan semua potensi yang ada untuk mendongkrak produktivitas komunitas. Jangan berhenti di pertemuan ini, tetapi harus ada aksi berikutnya,” tegasnya.
Bupati juga menyoroti produktivitas ayam petelur yang saat ini rata-rata masih berada di kisaran 80 persen. Ia menilai angka tersebut masih dapat ditingkatkan melalui penerapan teknologi, manajemen peternakan yang lebih baik, kualitas pakan serta pendampingan tenaga ahli.
Untuk itu, Bupati meminta Dinas Pertanian mengoptimalkan tenaga dokter hewan dan penyuluh yang tersedia. Jika diperlukan, pemerintah daerah juga dapat membuka peluang mendatangkan tenaga ahli dari luar daerah untuk memberikan pelatihan dan pendampingan kepada peternak.
“Kalau ada ahli di mana, mungkin kita datangkan. Yang penting bagaimana produktivitas peternak kita meningkat,” ujarnya.
Selain produksi, Bupati Gus Irawan menekankan pentingnya kepastian pasar. Ia meminta Dinas Perdagangan membantu membuka akses pemasaran telur produksi peternak Tapsel, termasuk melalui pasar-pasar yang ada di daerah.
Ia juga mendorong agar telur lokal dapat masuk dalam rantai pasok program pemerintah, termasuk MBG, sepanjang memenuhi persyaratan kualitas dan mekanisme pengadaan yang berlaku.
Menurutnya, pemerintah harus membangun ekosistem dari hulu hingga hilir. Peternak tidak cukup hanya dibantu meningkatkan produksi, tetapi juga harus dibantu menemukan pasar yang mampu menyerap hasil produksi mereka.
“Sering kali masyarakat sudah dilatih dan mampu memproduksi, tetapi gagal karena tidak mampu menembus pasar. Maka pasarnya harus dijamin,” katanya.
Bupati juga meminta komunitas peternak mengikuti pelatihan yang berkaitan dengan mekanisme pengadaan barang dan jasa pemerintah, termasuk penggunaan platform pengadaan elektronik. Hal itu penting agar produk telur lokal dapat mengikuti proses pengadaan pemerintah sesuai ketentuan.
Ia meminta Dinas Perdagangan dan UKPBJ berkolaborasi memberikan pendampingan kepada para peternak mengenai cara masuk dan menggunakan platform pengadaan elektronik tersebut.
Di sisi pembiayaan, Bupati akan mengomunikasikan kebutuhan pengembangan peternak dengan Bank Sumut, termasuk peluang pembiayaan untuk penambahan populasi ayam dan pengembangan kandang.
Bupati juga menyinggung kebijakan pembiayaan dengan bunga rendah sebagai bagian dari upaya pemerintah daerah mendorong masyarakat beralih dari pinjaman berbunga tinggi kepada sumber pembiayaan yang lebih sehat.
Gus Irawan juga melihat peluang integrasi antara program pengembangan ayam petelur dengan Gerakan Sepuluh Ribu Hektare Jagung yang sedang dikembangkan Pemkab Tapsel.
Jagung yang dihasilkan petani, kata dia, dapat menjadi bagian dari rantai pasok pakan ayam. Dengan demikian, petani jagung memiliki pasar, sementara peternak memperoleh sumber bahan baku pakan yang lebih dekat dan berpotensi menekan biaya produksi.
Konsep tersebut, menurut Bupati, merupakan bagian dari pembangunan ekosistem ekonomi masyarakat yang saling menguntungkan.
“Makanya saya selalu bicara ekosistem. Teman-teman yang kita bina dalam budidaya jagung nanti bisa kontrak farming dengan kawan-kawan peternak ayam,” jelasnya.
Selain itu, limbah peternakan berupa kotoran ayam atau kohe juga diminta agar tidak dibiarkan terbuang. Bupati mendorong Dinas Pertanian mengkaji pemanfaatannya sehingga dapat memiliki nilai ekonomi, antara lain sebagai bahan pupuk organik.
Bupati juga meminta komunitas memperkuat organisasi serta melakukan pendataan anggota secara lengkap, mulai dari nama peternak, lokasi kandang, jumlah populasi dan kapasitas produksi.
Data tersebut dinilai penting sebagai dasar pemerintah dalam menyusun kebijakan dan menentukan bentuk intervensi yang tepat.
Ia juga mendorong komunitas peternak ayam petelur di berbagai wilayah Tapsel untuk bersatu sehingga komunikasi dan pembinaan pemerintah dapat dilakukan secara lebih efektif.
“Perkuat pendataan dan besarkan organisasinya. Nanti Dinas Pertanian membuat roadmap dan turun ke lapangan untuk melakukan pembinaan,” katanya.
Sementara itu, pihak komunitas menyatakan kesiapan mendukung program Gerakan Seribu Kandang dan meningkatkan populasi ayam petelur secara bertahap. Mereka berharap program tersebut dapat menjadi salah satu program unggulan daerah dalam memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan peternak lokal.
Pertemuan tersebut diakhiri dengan komitmen bersama untuk menindaklanjuti hasil audiensi melalui penyusunan roadmap, peningkatan produktivitas, penguatan akses pembiayaan, pendampingan teknis, serta perluasan pasar telur produksi peternak lokal Tapanuli Selatan.
