Gerindrasumut.id | Pematangsiantar – Jumat 6 Maret 2026 DPC Partai Gerindra Pematangsiantar mengomentari langkah PDIP yang mengungkit anggaran untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG). Gerindra Pematangsiantar menilai PDIP sedang bermanuver politik untuk mencari perhatian.
Hal itu diutarakan Ketua DPC Gerindra Pematangsiantar Gusmiyadi. Awalnya anggota DPRD Sumut ini menilai kritikan terhadap MBG ini kini semakin tidak memiliki arah.
“Kritik masyarakat terhadap pelayanan MBG semakin bias. Segala kesalahan akhirnya secara keliru ditujukan pada Pak Prabowo. Kami ingin sampaikan, bahwa pengelola dapur harus bertanggungjawab atas kekecewaan masyarakat,” ucap Gusmiyadi dalam keterangannya, Jumat (6/3/2026).
Menurut Goben, langkah Presiden Prabowo melalui program MBG ini sudah menemukan keberhasilan. Salah satunya soal lapangan kerja untuk masyarakat.
“Niat dan tujuan yang baik dari Pak Prabowo sesungguhnya disisi lain telah menemukan keberhasilannya. Pengangguran kita berkurang 1.5 juta orang, sektor ekonomi bergerak, rumah tangga lebih hemat, dunia pertanian menggeliat. Nah, dapur-dapur ini selanjutnya memiliki peran penting untuk memastikan layanan MBG dapat diterima siswa secara baik,” ucapnya.
Menurut Gusmiyadi, yang terjadi saat ini adalah pengelolaan dapur MBG yang kurang baik. Sehingga, hal ini perlu disikapi dengan peningkatan pengawasan terhadap proses penyajian MBG.
“Kami juga ingin mengingatkan bahwa pihak-pihak yang memiliki otoritas untuk melakukan pengawasan untuk bekerja secara maksimal. Pengawasan harus ditingkatkan. Mesti ada tindakan keras bagi dapur-dapur yang sekiranya melanggar,” tuturnya
Gusmiyadi mengatakan, program yang seharusnya untuk kebaikan ini kemudian mendapatkan kritikan karena persoalan proses penyajiannya itu. Kritik lewat media sosial oleh sejumlah masyarakat kemudian ditambahi dengan sikap PDIP yang mencari perhatian dengan isu MBG ini.
“Program yang secara prinsip bernilai baik ini harusnya mendapatkan tempat yang baik ditengah masyarakat. Tetapi saat ini semuanya menjadi distorsi karena kinerja pengelola dapur. Hal tersebut tercermin dari riuhnya media sosial dalam mengunggah kekesalannya di media sosial,” ungkap Gusmiyadi.
“Hal ini kemudian menjadi runyam ketika fenomena ini ditunggangi secara politik. Misalnya manuver yang dilakukan PDIP melalui konfrensi pers beberapa waktu yang lalu. Tentu saja masyarakat dapat memberikan penilaian bahwa apa yang dilakukan partai ini merupakan upaya membangun momentum guna mencari perhatian publik,” imbuhnya.
PDIP, kata Gusmiyadi, menyampaikan hal yang subjektif terkait program utama Presiden Prabowo itu. Di sisi lain, sebut Gusmiyadi, kritikan itu terjadi di tengah kader-kader PDIP yang turut memanfaatkan program ini.
“Persoalannya, apa yang disampaikan tidak clear bagi kita semua. Panggung konferensi pers itu jauh dari nuansa objektivitas, seakan-akan tidak ada sisi positif dari program tersebut. Sialnya, mungkin hingga saat ini kader-kader mereka yang terlibat dalam bisnis MBG masih menikmati program ini, abai terhadap perintah partainya. Meskipun kita berharap seluruh elemen bangsa ini dapat bergotong royong, mensukseskan program prioritas Pemerintah ini,” jelasnya.
